Warta

Sebuah Refleksi Spiritual:

Pada Makna Puisi Religi Kidalang Wawan Ajen. Editor; Ridwan Ch. Madris

Puisi religi sufi karya H. Wawan Gunawan, atau yang dikenal sebagai Kidalang Wawan Ajen, merupakan sebuah karya yang mendalam dan sarat akan makna spiritual. Sebagai seorang budayawan Indonesia yang dikenal luas karena kearifan dan kedalaman spiritualnya, terutama dalam mensyiarkan da’wah Islam melalui wayang golek, Kidalang Wawan Ajen memiliki kepekaan sastra yang luar biasa.

Dalam puisi-puisinya, Kidalang Wawan Ajen sering mengeksplorasi tema-tema spiritual dan filosofis, serta menggambarkan kehidupan manusia dalam perspektif yang lebih luas. Beliau juga sering menggunakan simbol-simbol dan metafora untuk mengungkapkan ide-ide dan perasaan yang mendalam.

Cuplikan beberapa bait dalam dua judul puisi yang akan kita simak adalah “SULUK AGUNG DEWARUCI” dan “PERMONI: RATU KEJAHATAN DARI NERAKA”. Kedua puisi ini merupakan sebuah refleksi spiritual yang mendalam, yang menggambarkan perjalanan spiritual Bima, seorang tokoh wayang, yang mencari kesucian jiwa dan menuju kepada Allah SWT.

SULUK AGUNG DEWARUCI

Jalan terbentang menuju pulau ahirat,
Empat serangkai tak boleh lepas,
syariat, thoriqot, hakikat, dan Mak’rifat.
Syariat rambu-rambu Alloh
Menerangi jalan kehidupan,
Menuju keindahan dalam cahaya keberkahan.
Thariqot kepatuhan, ketaatan dan kecintaan kepadaNya.
Seperti perahu
Mengarungi samudra cinta
Mengarahkan hati, pada Illahi Rabbi.
Hakikat sebuah kesejatian dalam pengabdian pada Alloh SWT.
Menghilangkan ilusi, menuju kesucian yang hakiki
Dan Makrifat, kesaksian cinta yang mutlak tak terbatas tehadap Allah Robil ’izzati.

Dalam tawajuh yang khusyu, dalam doa yang hidmat ditatap dengan mata hati
Dalam kepasrahan jiwa
Bergemuruh Dzikrulloh Laa Illaha Illalloh.
Tertuju hanya kepada ridhoMu.

Wahai orang-orang yang beriman!
Ingatlah kepada Alloh, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41)

Di Hutan Tibrasara Bima bermeditasi
Lalu mengarungi samudra
Menyelami lautan tanpa tepi
Dewa Ruci Dalam diri bersemayam dalam hati
Raga basuhkan Banyu Tirta Pawitrasari air suci yang menyucikan raga, rasa, rasio dan ruh Bima.
Tasawuf Dewa Ruci.
Adalah thareqoh Sarwa Suluk jalan spiritual
Bima Putra Pandawa
Untuk kesucian jiwa
Menuju nur cahaya dalam nur muhamad
Cahaya bagi sesama Mahluk ALLOH

Kini Bima telah berkhalwat
Dalam suluk jabaning langit
Menjangkau hening dan wening di tengah malam
Ketika orang-orang tengah lelap tidur
Bima menyatu dengan Dewa Ruci
Terbang batin terbang suci
Menjernihkan hati, membeningkan pikiran, dan menyucikan jiwa
Menembus langit Arsy
Menghadap kiblat
Menegakan sholat fardu awal waktu, untuk kesempurnaanya diiringi sholat-sholat sunah
Memperbanyak wirid
Mendawamkan dzikrulloh
Pada kedalaman hati menancapkan kalimah tauhid “La Illa Ha Illalloh”
Bergemuruh dalam qolbu, menyeruak dalam syaraf menancap dalam detak jantung, mengalir dalam darah, dalam nafas, menyatu dalam ruh suci.
Berselimut marifatulloh.
Dzikir khofi tiada henti
Alloh Hu Alloh

Dalam penggalan beberapa bait puisi ini, Kidalang Wawan Ajen menggambarkan perjalanan spiritual Bima yang mencari kesucian jiwa dan menuju kepada Allah SWT. Puisi ini sarat akan simbol-simbol sufi, seperti “Dewa Ruci” yang merupakan representasi dari kesucian dan kebenaran.

PERMONI: RATU KEJAHATAN DARI NERAKA

Aku adalah bayang-bayang
Yang tumbuh dari doa-doa yang gugur
Aku Permoni, ratu luka dari alam yang dilupakan
Bidadari Uma yang terkutuk,
Wajahku serpihan kutukan berwujud
Durga yang menjerit
Bermata bara, berlidah sembilu,
Kubasuh dunia dengan darah dan dusta

II
Aku haus darah iman
Lapar akan ruh-ruh yang lalai
Kujadikan manusia wayang sialan
Yang kupimpin menuju jurang tanpa sadar, tanpa takut
Kurangkai kemewahan dengan benang kedzoliman
Kusulam kekuasaan dengan kedunguan
Kebodohan kujadikan budak kesombongan
Aku Gedeng Permoni Ratu Raksesi dari lembah hitam
Setra Gandamayit paling dalam
Dari tubuhku lahir: Assu Balilung lidahnya penghasut
Babigembrot Sitartaisia pemabuk hawa nafsu
Nini Begung Oondancrot nenek pengendus fitnah
Gembul Bayuyuh pemalas yang serakah

Dalam penggalan/cuplikan beberapa bait judul  puisi ini, Kidalang Wawan Ajen menggambarkan kekuatan jahat yang selalu berusaha untuk menjauhkan kita dari jalan Allah SWT. Permoni, sang ratu kejahatan, merupakan representasi dari kekuatan jahat yang ada dalam diri manusia.

Kedua puisi ini menekankan pentingnya kesadaran dan kewaspadaan dalam menghadapi godaan-godaan syaitan. Puisi-puisi ini juga menggambarkan betapa pentingnya mengingat Allah SWT dan menjalani jalan spiritual yang benar untuk menghindari jeratan kejahatan.Dengan demikian, puisi-puisi karya Kidalang Wawan Ajen merupakan sebuah karya yang mendalam dan sarat akan makna spiritual, serta dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menjalani kehidupan spiritual. Untuk lebih lanjutnya dalam mendalami puisi puisi beliau, tunggu tanggal mainya..Yang insya Allah akan diliris bulan ini dalam bentuk Antologi puisi tunggalnya.

Sosok Penulis: H. Wawan Gunawan, yang disapa Kidalang Wawan Ajen, merupakan seorang tokoh seniman budayawan yang telah melanglang buana dalam kancah seni dan budaya Indonesia. Lahir di Ciamis. Memulai Ki Dalang Wawan Ajen, memulai karir seniman dalang di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Bandung tahun 1989. Sebagai pencipta Wayang Ajen, aktif menulis naskah, sutradara pertunjukan Wayang Ajen, dan mendirikan Sanggar Wayang Ajen di Kota Bekasi tahun 2000. Pengalaman pentas di dalam dan luar negeri dengan berbagai prestasi. Membuka kelas pelatihan seni pedalangan bagi generasi muda di kota Bekasi, pandeglang, Subang, dan Bandung Barat. Selain itu , ia sebagai dosen di Pascasarjana NHI Stiabudi Bandung.

 

BY. @RidwanChMadris

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button